WAHANANEWS.CO.ID, Malang - Dulu, sungai di Desa Banjarsari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang adalah tempat berakhirnya sampah plastik warga. Tak ada yang menyangka bahwa benda-benda yang dianggap tak berguna itu suatu hari akan menjadi sumber penghidupan, bahkan membuka lapangan kerja bagi delapan orang.
Inilah cerita Bank Sampah Kampung Tape (KATA), dan bagaimana sebuah program tanggung jawab sosial perusahaan mengubah cara pandang sebuah komunitas terhadap sampah.
Baca Juga:
Sampah Plastik di Malang Berubah Jadi Berkah Berkat Program PLN Electricity Services
Bermula dari Masalah yang Tak Terlihat
Sebelum tahun 2024, Bank Sampah KATA hanya memiliki 78 nasabah. Fasilitas seadanya, pengetahuan terbatas, dan yang paling menyakitkan: sampah plastik dijual begitu saja tanpa pengolahan, hanya seharga Rp6.000 per kilogram. Tak heran jika banyak warga memilih membuang sampah ke sungai — lebih mudah, tanpa repot.
Saat itulah PT PLN Electricity Services (PLN ES) hadir melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) — bukan sekadar memberi bantuan, tetapi mendampingi.
Baca Juga:
Laba Bersih Naik 38,18 Persen, PLN ES Perkuat Bisnis Beyond kWh
Dua Tahap Perubahan yang Nyata
Tahap pertama (2024) dimulai dengan membangun pondasi: gudang pengolahan, alat pengolahan sampah plastik, dan yang terpenting — sistem pengelolaan yang terstruktur. Masyarakat didampingi untuk memahami bahwa sampah bukan masalah, melainkan potensi.
Tahap kedua (2025) membawa lompatan lebih besar. PLN ES menghadirkan peralatan pengolahan plastik yang lebih canggih dan gerobak sampah listrik modern. Jangkauan wilayah bank sampah pun meluas, membawa semangat elektrifikasi ramah lingkungan ke sudut-sudut Kabupaten Malang.
Angka yang Bicara Sendiri
Dua tahun berjalan, hasilnya tak terbantahkan. Hingga pertengahan 2026, Bank Sampah KATA telah berkembang menjadi ekosistem ekonomi yang hidup.
Kini jumlah nasabah berjumlah 171 orang atau naik 119% dari 78 orang pada 2023. Pendapatan tahunan naik 312% dari tahun 2024. Kemampuan mengolah sampah plastik hingga 7,7 ton perbulannya dimana akan mampu mengurangi sampah plastik di kabupaten malang hingga 92,4 ton per tahunnya.
Sampah Menciptakan Pekerjaan
Salah satu dampak paling bermakna dari program ini adalah lahirnya lapangan pekerjaan. Bank Sampah KATA kini mempekerjakan13 orang dengan pembagian tugas yang terstruktur.
Program ini menjadi bukti nyata komitmen PLN Electricity Services dalam mendorong kemandirian masyarakat melalui pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Direktur Utama PLN Electricity Services, Susiana Mutia, menyampaikan bahwa keberhasilan sejati tidak diukur dari besarnya bantuan yang diberikan, melainkan dari kemampuan masyarakat untuk mengelola dan mengembangkan program secara mandiri.
“Program TJSL bagi kami bukan tentang memberi, melainkan tentang menumbuhkan. Ketika masyarakat Kampung Tape mampu mengelola sampah secara mandiri, menghasilkan pendapatan, dan menjaga sungai mereka tetap bersih, itulah ukuran keberhasilan sesungguhnya. PLN ES hadir bukan hanya menerangi rumah, tetapi juga menerangi masa depan komunitas,” kata Susiana.
Dampak positif program ini dirasakan langsung oleh masyarakat Kampung Tape, yang kini mampu mengelola sampah secara mandiri sekaligus meningkatkan kesejahteraan ekonomi warga.
Ketua Bank Sampah Kampung Tape (KATA), Ida Dwi Fitria, membagikan bagaimana program ini mengubah cara pandang dan kehidupan masyarakat setempat.
“Dulu kami tidak punya banyak pilihan, sampah ya dibuang, jadinya sungai kotor. Sekarang berbeda. Kami punya gudang, punya alat, punya penghasilan, dan yang paling berharga kami punya harapan. Lingkungan kami lebih bersih, anggota kami lebih sejahtera, dan kami tidak bergantung pada siapapun untuk mengelola ini semua,” ungkap Ida bangga.
Komitmen yang Terus Berlanjut
Melalui program TJSL ini, PLN ES menegaskan bahwa komitmen perusahaan bukan sekadar menghadirkan keandalan kelistrikan, tetapi juga menerangi kehidupan masyarakat secara lebih luas: menciptakan lingkungan yang lebih bersih, produktif, dan ekonomi yang berdaya.
Susiana menambahkan bahwa keberhasilan ini akan menjadi model yang bisa direplikasi. “PLN ES akan terus mendorong penguatan kapasitas masyarakat agar program ini dapat berkembang dan direplikasi di wilayah lainnya,” tegasnya.
[Redaktur: Sandy]