"Di dalam upaya kita untuk mendudukkan persoalan itu kita sebenarnya memiliki banyak alat bantu, selain dibantu oleh narasumber ya, kita dibantu oleh data," terangnya.
Frans menerangkan, jurnalisme data terdiri dari pilar yang disebut dengan mindset dan keterampilan teknis atau kesanggupan wartawan dalam menulis berita.
Baca Juga:
Paripurna Raperda LPPL Penyebarluasan Informasi Semakin Terbuka Lebar
"Kerangka besar pengetahuan yang berkaitan dengan jurnalisme data ini meliputi bagaimana cara wartawan dalam mendapatkan data, mengerti dan mengevaluasi data, dan menyajikan data," jelas mentor FJP ini.
Data, menurut Frans, juga dapat digunakan sebagai cara untuk menjelaskan sesuatu atau yang disebut dengan storytelling with data, bukan hanya menyampaikan sesuatu semata.
Lebih lanjut ia menjelaskan, storytelling with data telah berkembang menjadi satu kemampuan yang semakin dibutuhkan di tengah berlimpahnya data dan semakin kuatnya keinginan untuk membuat keputusan yang berbasis data atau data driven decision making.
Baca Juga:
Miliki Sabu, Residivis Asal Tapteng Ditangkap Polisi di Terminal Sibolga
Kemampuan tersebut, menurut Frans, dapat menjadi unsur pembeda antara sukses dan gagalnya seseorang dalam berkomunikasi.
"Di era sekarang showing data telah menjadi satu kemampuan yang generik sifatnya. Kemampuan yang seharusnya dimiliki semua orang. Seseorang perlu bergerak ke level kemampuan yang lebih tinggi, telling story with data," tambahnya.
Penggunaan jurnalisme data ini juga berpengaruh terhadap tingkat kepercayaan publik. Berdasarkan riset bertajuk Kepercayaan Publik Terhadap Media Arus Utama di Era Pandemi COVID-19 yang diterbitkan oleh Dewan Pers 2021 lalu, media pers dipercaya berdasarkan faktor data dan fakta yang disajikan, selain nama besar media, narasumber berita, dan tidak ada pilihan.