"Perang akan sangat menghambat pemulihan global, memperlambat pertumbuhan dan meningkatkan inflasi lebih jauh," kata IMF, menekankan bahwa ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih dari pandemi Covid-19 ketika Rusia menginvasi Ukraina.
Di Eropa yang sangat bergantung pada Rusia untuk memenuhi kebutuhan energinya, pertumbuhan ekonomi diperkirakan melambat jadi 2,8% pada 2022, turun 1,1 poin dibandingkan Januari.
Baca Juga:
Film Indonesia Pabrik Gula Disambut Meriah di Amerika
Sementara di AS, IMF memproyeksikan pertumbuhan ekonominya sebesar 3,7% pada 2022 dan 2,3% pada 2023, turun 0,3 poin sejak perkiraan terakhirnya.
Di China, perkirakan IMF akan mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,4% pada 2022, jauh di bawah target resmi Beijing sekitar 5,5%. Ekonomi terbesar kedua di dunia itu terhambat kebijakan lockdown untuk menghentikan penyebaran Covid-19.
Laporan tersebut mengamati bahwa prospek ekonomi global telah memburuk secara signifikan sejak awal tahun. Meski begitu, laporan tersebut tidak memprediksi resesi yang biasanya disebut IMF ketika pertumbuhan turun menjadi 2,5% atau lebih rendah.
Baca Juga:
Pemerintah AS Berencana Setop Dana Vaksin Global untuk Negara Berkembang
Terlepas dari itu, IMF mencatat ketidakpastian jauh di luar kisaran normal seputar proyeksinya karena sifat guncangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Risiko perlambatan yang lebih besar ditambah inflasi yang terus-menerus tinggi jadi pemicunya. [JP]