Ia juga mengukir dua patung yang sangat indah serta membuat genderang dengan suara yang nyaring.
Gendang itu ia gunakan untuk mengiringinya menari tanpa henti. Begitu dahsyatnya suara genderang hingga kedua patung yang diukir oleh Fumerispitsy menjadi hidup.
Baca Juga:
TNI Amankan 11 Bandara Perintis Papua, Operasional Penerbangan Kembali Normal
Dua patung tersebut kemudian ikut menari mengikuti gerakan Sang Dewa yang menabuh genderan.
Konon, kedua patung itulah pasangan manusia pertama yang menjadi nenek moyang Suku Asmat di Tanah Papua.
Mitologi di atas hidup di kalangan masyarakat Suku Asmat.
Baca Juga:
Satgas Gabungan Amankan Senjata, Magazín, dan Ponsel Diduga Milik Korban
Mereka memiliki sistem kepercayaan serta adat istiadat yang menarik hingg mengundang para peneliti dari seluruh penjuru dunia berkunjung ke kampung Suku Asmat.
Dikenal Khalayak Tahun 1930
Nama Suku Asmat dikenal khalayak pada tahun 1930 saat suku ini melakukan serangan ke daerah suku Mimika.