WAHANANEWS.CO.ID, Jakarta - Sisa tanaman yang dahulu hanya dibiarkan membusuk, kini mulai diolah menjadi kompos. Pengetahuan budidaya yang sebelumnya belum dikenal mulai diterapkan di lahan, sementara hasil panen perlahan meningkat. Perubahan tersebut dirasakan Kelompok Wanita Tani (KWT) Wulasi Mandiri di Desa Manurung, Kecamatan Malili, Kabupaten Luwu Timur, setelah memperoleh pendampingan melalui Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Sulawesi.
Salah satu perubahan yang paling terasa terlihat dari hasil budidaya kangkung. Jika sebelumnya nilai penjualan dalam satu kali panen berada di kisaran Rp200 ribu, kini KWT Wulasi Mandiri mampu memperoleh sekitar Rp485 ribu dalam satu kali panen. Nilai tersebut masih berpotensi bertambah seiring tanaman timun yang saat ini mulai berbuah dan siap memasuki masa panen.
Baca Juga:
Sambut Idul Adha, YBM PLN UP3 Bandung Tebar Daging Kurban untuk Warga Desa Mekarmanik
Peningkatan hasil panen tersebut berjalan seiring dengan perubahan cara anggota kelompok mengelola lahan. Melalui pelatihan yang didampingi penyuluh pertanian, sebanyak 14 anggota KWT memperoleh pengetahuan mengenai pembuatan kompos serta Plant Growth Promoting Rhizobacteria (PGPR), yang kemudian mulai mereka praktikkan secara mandiri.
Sebelumnya, sisa hasil pertanian hanya ditempatkan dalam wadah dan dibiarkan mengalami pembusukan. Setelah mengikuti pelatihan, anggota KWT mulai memahami bahwa proses pembuatan kompos perlu dikontrol, mulai dari tingkat kelembapan hingga kondisi bahan selama proses penguraian, agar dapat menghasilkan kompos yang layak dimanfaatkan untuk tanaman.
Ketua KWT Wulasi Mandiri, Nurhapidah, mengatakan pengetahuan tersebut menjadi pengalaman baru bagi anggota kelompok. Selain mulai memproduksi kompos, kelompok juga telah mencoba menerapkan PGPR pada lahan pertanian mereka.
Baca Juga:
YBM PLN UP3 Cirebon Tebarkan Kepedulian melalui Program Tebar Daging Qurban di Berbagai Wilayah
“Dari pelatihan kami belajar bahwa membuat kompos bukan hanya mencampur bahan yang ada di sekitar. Kondisinya juga harus diperhatikan, apakah terlalu basah, terlalu kering, atau mengalami pembusukan. Sekarang kami mulai membuat kompos sendiri dan sudah menerapkan PGPR di lahan KWT,” ujar Nurhapidah.
PGPR yang dibuat anggota KWT memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan di sekitar, seperti akar bambu, dedak, terasi, dan air. Setelah melalui proses pengolahan dan fermentasi, hasilnya dimanfaatkan untuk membantu mendukung pertumbuhan tanaman.
Pengetahuan baru tersebut melengkapi dukungan fasilitas yang sebelumnya diberikan PLN UIP Sulawesi berupa green house, rumah kompos, sistem pengairan sederhana, serta sarana pendukung budidaya. Keberadaan fasilitas tersebut membuat proses pembibitan dan pemeliharaan tanaman menjadi lebih terarah, termasuk membantu kelompok menjaga ketersediaan air bagi tanaman pada musim kemarau.