Situasi yang mendesak menuntut bantuan cepat, menurut LSM Somali, Consortium, dalam sebuah keterangan pers. Lembaga kemanusiaan itu mengimbau lembaga donor internasional untuk mengalokasikan lebih banyak dana.
"Kita hanya satu bulan sebelum musim kering, dan saya sudah kehilangan 25 kambing dan domba," kata Hafsa Bedel, peternak di kawasan Somali, kepada UNICEF. "Saya juga kehilangan empat unta. Tidak ada lagi susu yang bisa diperah," pungkasnya.
Baca Juga:
3 Negara Ini Masuk Daftar Wisata Luar Negeri dengan Risiko Tinggi di 2025
Hafsa mengatakan hasil dari beternak tidak lagi cukup untuk menghidupi keenam orang anaknya.
UNICEF memperkirakan lebih dari 150.000 anak-anak di Etiopia akan dipaksa bolos sekolah untuk membantu orang tua mencari air, atau mengurus pekerjaan rumah lain.
"Hewan-hewan mati dalam kecepatan yang luar biasa, dan bertambah setiap bulannya. Matinya hewan-hewan ini berarti kelangkaan pangan untuk anak-anak, untuk keluarga," kata Gianfranco Rotigliano, utusan UNICEF untuk Etiopia, Selasa (01/02).
Baca Juga:
Kantor Pertanahan Jakarta Barat Terima Kunjungan Studi Delegasi dari 2 Negara Afrika
Dia mengatakan beberapa sumber air alami telah kering secara permanen. Salah satu solusi yang ditawarkan UNICEF adalah merehabilitasi sumur air yang sudah ada, atau mengebor yang baru.
Menurut Rotigliano, perang antara pemerintah Etiopia dan pemberontak Tigray tidak berdampak pada operasi UNICEF menyalurkan bantuan bagi warga. [JP]