PLN WATCH berpandangan stabilitas sistem kelistrikan perlu menjadi pertimbangan utama karena fragmentasi pengelolaan dapat memunculkan persoalan koordinasi pembangkitan, manajemen beban, investasi jaringan, dan kepastian pasokan.
“Transisi energi bukan perlombaan membentuk perusahaan baru, tetapi perlombaan membangun pembangkit bersih, jaringan yang kuat, teknologi penyimpanan, dan listrik yang tetap terjangkau bagi rakyat,” ujar Tohom.
Baca Juga:
PLN WATCH Minta Prabowo Tolak BUMN Kelistrikan Baru, Fokus Perkuat PLN
Ia menilai PLN mempunyai modal besar untuk menjalankan peran tersebut karena memiliki infrastruktur, pengalaman pengoperasian sistem, basis pelanggan nasional, serta sumber daya manusia yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Tohom yang pernah menjadi Ketua Umum Relawan MARTABAT Joko Widodo-Jusuf Kalla pada 2014 dan Jokowi-Ma'ruf Amin pada 2019 mengatakan kesinambungan pembangunan ketenagalistrikan antarperiode pemerintahan harus tetap dijaga.
Menurutnya, setiap pemerintahan boleh membawa strategi baru, tetapi aset strategis nasional yang telah dibangun harus diperkuat dan dikembangkan, bukan dibuat saling berkompetisi dengan sesama perusahaan negara.
Baca Juga:
ALPERKLINAS: Energize GI Naibonat Perkuat Fondasi Kelistrikan dan Pembangunan Pulau Timor
“Presiden Prabowo harus mewariskan PLN yang lebih kuat dari hari ini, bukan sistem kelistrikan yang semakin terfragmentasi dan saling berebut pasar di antara perusahaan milik negara sendiri,” katanya.
PLN Harus Tetap Dikritik dan Dibangun
Tohom menegaskan dukungan PLN WATCH terhadap penguatan PLN tidak berarti memberikan cek kosong kepada manajemen perusahaan.